Aku pergi
Aku pergi
Langkah demi langkah makin jauh dari rumah yang kusebut itu Cinta. Kumenjauh
dari cintaku bukan karena sudah bosan atau bahkan sudah tidak butuh. Bukan itu,
terlalu munafik untukku mengatakan demikian. Aku manusia biasa yang punya celah
kehampaan, yang akan melebar dan menganga jika tiada cinta yang menyelimutinya,
menghangatkannya dari hujan badai, melindunginya dari murka semesta. Aku sungguh
menginginkannya, selamanya disisi, menerangi siang dan malamku, menyempurnakan
ketidaksempurnaan hidupku.
Jadi aku pun pergi, meninggalkan rumah cinta yang dulu semerbak
mewangi, yang dulu di pekarangan kita tanami bunga-bunga, mawar, melati,
kenanga. Ya, indah sekali, bahkan hingga kini masih terlihat indah meski hanya
tinggal rumput-rumput kecil dan belukar kering. Dalam pandanganku rumah itu
selalu indah.
Semua sudah jauh berubah, lantainya, dindingnya, warnanya, udaranya
sungguh asing bagiku. Ada yang lain, yang berbeda, dan tak pernah bisa
kuselami. Serumit teka-teki yang ribuan tahun tak terjawab. Jadi sudah
kuputuskan, aku hidup dengan cinta, sedang cinta itu sudah asing disini. Kurasa
itu sudah bukan cintaku, dan ini sudah bukan lagi rumahku.
Aku pergi. Biarlah kenangan melekat disini, biarlah semua terjadi,
yang semestinya harus terjadi. Dan Tuhanku paling mengerti, apa yang akan
dilukis di kanvas ini.

Komentar
Posting Komentar