Aku pergi
Aku pergi Langkah demi langkah makin jauh dari rumah yang kusebut itu Cinta. Kumenjauh dari cintaku bukan karena sudah bosan atau bahkan sudah tidak butuh. Bukan itu, terlalu munafik untukku mengatakan demikian. Aku manusia biasa yang punya celah kehampaan, yang akan melebar dan menganga jika tiada cinta yang menyelimutinya, menghangatkannya dari hujan badai, melindunginya dari murka semesta. Aku sungguh menginginkannya, selamanya disisi, menerangi siang dan malamku, menyempurnakan ketidaksempurnaan hidupku. Jadi aku pun pergi, meninggalkan rumah cinta yang dulu semerbak mewangi, yang dulu di pekarangan kita tanami bunga-bunga, mawar, melati, kenanga. Ya, indah sekali, bahkan hingga kini masih terlihat indah meski hanya tinggal rumput-rumput kecil dan belukar kering. Dalam pandanganku rumah itu selalu indah. Semua sudah jauh berubah, lantainya, dindingnya, warnanya, udaranya sungguh asing bagiku. Ada yang lain, yang berbeda, dan tak pernah bisa kuselami. Serumit teka-teki ...


